PERBANDINGAN IMPLEMENTASI CLINICAL PATHWAY TUBERKULOSIS PARU ANTARA RS X DAN RS Y

Authors

  • Masita Sari Dewi Progam Studi Sarjana Farmasi, Universitas Medika Suherman Author

Keywords:

Clinical Pathway, Implementasi, Tuberkulosis Paru

Abstract

Tuberkulosis paru (TB) merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia. Implementasi clinical pathway (CP) dalam penanganan TB paru di rumah sakit bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pengobatan dan mempercepat proses pemulihan pasien. Namun, implementasi CP di rumah sakit berbeda-beda tergantung pada faktor-faktor seperti fasilitas, pelatihan tenaga medis, dan sumber daya yang tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan implementasi CP TB paru di dua rumah sakit di Jakarta, yaitu RS X dan RS Y, dengan melihat perbedaan dalam durasi pengobatan, kepatuhan pasien, dan tingkat kesembuhan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain komparatif dengan pendekatan observasional. Data diperoleh melalui wawancara, observasi langsung, dan analisis dokumen implementasi CP di kedua rumah sakit. Parameter yang dibandingkan mencakup pemahaman tenaga medis terhadap CP, durasi pengobatan, kepatuhan pasien, dan tingkat kesembuhan. Responden terdiri dari 60 pasien TB paru yang dirawat di RS X dan RS Y dalam periode 6 bulan. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa di RS X, implementasi CP lebih terstruktur dengan adanya pelatihan rutin dan monitoring berkala, yang mengarah pada durasi pengobatan yang lebih cepat (rata-rata 6 bulan) dan tingkat kesembuhan yang lebih tinggi (85%) dibandingkan RS Y (durasi pengobatan 8 bulan, tingkat kesembuhan 70%). Kepatuhan pasien di RS Y sedikit lebih tinggi karena adanya dukungan komunitas yang intensif, meskipun implementasi CP di rumah sakit ini masih kurang optimal. Pembahasan: RS X menunjukkan penerapan CP yang lebih efisien, yang mengarah pada pengobatan yang lebih cepat dan hasil yang lebih baik, sejalan dengan temuan bahwa pelatihan dan pelaksanaan CP secara terstruktur berkontribusi pada keberhasilan pengobatan TB paru. Sebaliknya, meskipun RS Y memiliki dukungan komunitas yang kuat, keterbatasan pelatihan tenaga medis dan pengorganisasian yang kurang optimal menghambat implementasi CP secara maksimal, meskipun tingkat kepatuhan pasien lebih tinggi. Kesimpulan: Implementasi clinical pathway di RS X lebih efektif dibandingkan di RS Y, dengan pengobatan yang lebih cepat dan tingkat kesembuhan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, untuk meningkatkan implementasi CP, RS Y disarankan untuk meningkatkan pelatihan tenaga medis, pengorganisasian internal, dan evaluasi berkala terhadap CP yang diterapkan.

Downloads

Published

30-06-2024

How to Cite

PERBANDINGAN IMPLEMENTASI CLINICAL PATHWAY TUBERKULOSIS PARU ANTARA RS X DAN RS Y. (2024). Jurnal Ilmiah Kesehatan Institut Medika Drg. Suherman, 6(01), 19-25. https://publikasi.medikasuherman.ac.id/index.php/jikimds/article/view/140