EFEKTIVITAS TERAPI AKUPUNKTUR TERHADAP PENURUNAN INTENSITAS NYERI HAID PADA SINDROM STAGNASI QI DAN XUE DI KLINIK BIDAN “S” BANDUNG
DOI:
https://doi.org/10.59981/h7ypfn22Keywords:
akupunktur, dismenore, nyeri haid, stagnasi qi, stagnasi xueAbstract
Nyeri haid atau dismenore merupakan salah satu masalah kesehatan menstruasi yang sering dialami wanita usia reproduksi dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, produktivitas, serta kualitas hidup. Dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok, nyeri haid dapat dikaitkan dengan sindrom stagnasi qi dan xue, yaitu kondisi terganggunya kelancaran energi vital dan darah pada sistem meridian. Akupunktur merupakan salah satu terapi komplementer yang berpotensi menurunkan nyeri melalui pengaturan meridian serta mekanisme neurofisiologis. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas terapi akupunktur pada titik SP 6 (Sanyinjiao), CV 4 (Guanyuan), LI 4 (Hegu), LR 3 (Taichong), dan ST 36 (Zusanli) terhadap penurunan intensitas nyeri haid pada penderita sindrom stagnasi qi dan xue di Klinik Bidan “S” Bandung. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif quasi-eksperimental dengan pendekatan one group pretest-posttest. Sampel berjumlah 30 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Terapi akupunktur diberikan sebelum menstruasi, dan intensitas nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale sebelum dan sesudah terapi. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon signed-rank test karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan rerata skor nyeri menurun dari 6,00 sebelum terapi menjadi 2,06 setelah terapi, dengan selisih rerata 3,94 atau 65%. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan terdapat perbedaan signifikan intensitas nyeri sebelum dan sesudah terapi akupunktur dengan nilai p < 0,001. Temuan ini menunjukkan bahwa terapi akupunktur pada titik SP 6, CV 4, LI 4, LR 3, dan ST 36 berhubungan dengan penurunan intensitas nyeri haid pada penderita sindrom stagnasi qi dan xue. Namun, penelitian lanjutan dengan kelompok kontrol dan jumlah sampel lebih besar diperlukan untuk memperkuat bukti efektivitasnya.
Downloads
References
Cho, S. H., Hwang, E. W., & Ernst, E. (2010). Acupuncture for primary dysmenorrhoea: A systematic review. BJOG: An International Journal of Obstetrics & Gynaecology, 117(5), 509–521. https://doi.org/10.1111/j.1471-0528.2010.02489.x
Fatimah, A. D. B., & Rohmah, F. N. (2020). The relation between physical activities and the occurrence of dysmenorrhea. Disease Prevention and Public Health Journal, 14(2), 76–83. https://doi.org/10.12928/dpphj.v14i2.2480
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2018 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Akupunktur Terapis. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/4235/2021 tentang Standar Profesi Akupunktur Terapis. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Nugroho, T., Prasetyo, B., & Suherni, T. (2020). Tinjauan dismenore dari aspek epidemiologi dan penatalaksanaannya. Jurnal Kesehatan Reproduksi, 11(1), 1–7.
Nurfadilah, A. (2020). Penatalaksanaan nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri dismenore pada remaja putri. Jurnal Kesehatan Reproduksi, 7(3), 112–119.
Ortiz, M. I., Espinoza-Ramírez, A. L., Cariño-Cortés, R., & Moya-Escalera, A. (2022). Impact of primary dysmenorrhea on the academic performance of university students. Enfermería Clínica, 32(2), 81–88. https://doi.org/10.1016/j.enfcli.2021.12.006
Saputra, Y. A., Kurnia, A. D., & Aini, N. (2022). Pengaruh pendidikan kesehatan terhadap upaya remaja untuk menurunkan nyeri saat menstruasi atau dismenore primer. Jurnal Kesehatan Reproduksi, 7(3), 145–152. https://doi.org/10.22146/jkr.55433
Shobeiri, S., Nazari, M., & Nazari, S. (2016). A comparison of the quality of life in women with and without primary dysmenorrhea. Iranian Journal of Obstetrics, Gynecology and Infertility, 19(25), 1–7.
Situmorang, H., Handayani, N., Putri, A. M., & Maharani, D. (2024). Prevalence and risk factors of primary dysmenorrhoea among Indonesian medical students. BMJ Open, 14, e086052. https://doi.org/10.1136/bmjopen-2024-086052
Smith, C. A., Armour, M., Zhu, X., Li, X., Lu, Z. Y., & Song, J. (2016). Acupuncture for dysmenorrhoea. Cochrane Database of Systematic Reviews, 2016(4), CD007854. https://doi.org/10.1002/14651858.CD007854.pub3
Wang, L., Yan, Y., Qiu, H., Xu, D., Zhu, J., Liu, J., & Li, H. (2022). Prevalence and risk factors of primary dysmenorrhea in students: A meta-analysis. Value in Health, 25(10), 1678–1684. https://doi.org/10.1016/j.jval.2022.03.023
Wong, M. F. (2023). Hipnopresus: Kombinasi hipnosis dan akupresur. Jakarta: Penebar Plus.
World Health Organization. (2020). WHO benchmarks for the practice of acupuncture. Geneva: World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/978-92-4-001688-0
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Cakrawala Medika: Journal of Health Sciences

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
Penulis yang mempublikasikan di jurnal kami, setuju dengan syarat-syarat berikut:
Penulis mempertahankan hak cipta dan memberikan Jurnal Kami hak dari publikasi pertama dengan karya yang secara serentak dilisensikan di bawah lisensi Creative Commons Attribution 4.0 International yang memungkinkan orang lain untuk melakukan perubahan, menyesuaikan dan membangun karya dengan pengakuan atas karya penulis dan publikasi awal dalam Jurnal . Penulis diizinkan untuk menyalin dan mendistribusikan ulang versi karya yang diterbitkan jurnal (misalnya, mempostingnya ke repositori institusional atau menerbitkannya dalam sebuah buku), dengan pengakuan atas publikasi di jurnal kami.



