EFEKTIVITAS TERAPI AKUPUNKTUR TERHADAP PENURUNAN INTENSITAS NYERI HAID PADA SINDROM STAGNASI QI DAN XUE DI KLINIK BIDAN “S” BANDUNG

Authors

  • Hamidah Hamidah Universitas Medika Suherman Author
  • Stefanus Aditya Universitas Medika Suherman Author
  • Anis Lupita Ningrum Universitas Medika Suherman Author
  • Muslihatin Khuril Rosyida Universitas Medika Suherman Author
  • Franciscus Xaverius Universitas Medika Suherman Author

DOI:

https://doi.org/10.59981/h7ypfn22

Keywords:

akupunktur, dismenore, nyeri haid, stagnasi qi, stagnasi xue

Abstract

Nyeri haid atau dismenore merupakan salah satu masalah kesehatan menstruasi yang sering dialami wanita usia reproduksi dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, produktivitas, serta kualitas hidup. Dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok, nyeri haid dapat dikaitkan dengan sindrom stagnasi qi dan xue, yaitu kondisi terganggunya kelancaran energi vital dan darah pada sistem meridian. Akupunktur merupakan salah satu terapi komplementer yang berpotensi menurunkan nyeri melalui pengaturan meridian serta mekanisme neurofisiologis. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas terapi akupunktur pada titik SP 6 (Sanyinjiao), CV 4 (Guanyuan), LI 4 (Hegu), LR 3 (Taichong), dan ST 36 (Zusanli) terhadap penurunan intensitas nyeri haid pada penderita sindrom stagnasi qi dan xue di Klinik Bidan “S” Bandung. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif quasi-eksperimental dengan pendekatan one group pretest-posttest. Sampel berjumlah 30 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Terapi akupunktur diberikan sebelum menstruasi, dan intensitas nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale sebelum dan sesudah terapi. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon signed-rank test karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan rerata skor nyeri menurun dari 6,00 sebelum terapi menjadi 2,06 setelah terapi, dengan selisih rerata 3,94 atau 65%. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan terdapat perbedaan signifikan intensitas nyeri sebelum dan sesudah terapi akupunktur dengan nilai p < 0,001. Temuan ini menunjukkan bahwa terapi akupunktur pada titik SP 6, CV 4, LI 4, LR 3, dan ST 36 berhubungan dengan penurunan intensitas nyeri haid pada penderita sindrom stagnasi qi dan xue. Namun, penelitian lanjutan dengan kelompok kontrol dan jumlah sampel lebih besar diperlukan untuk memperkuat bukti efektivitasnya.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Cho, S. H., Hwang, E. W., & Ernst, E. (2010). Acupuncture for primary dysmenorrhoea: A systematic review. BJOG: An International Journal of Obstetrics & Gynaecology, 117(5), 509–521. https://doi.org/10.1111/j.1471-0528.2010.02489.x

Fatimah, A. D. B., & Rohmah, F. N. (2020). The relation between physical activities and the occurrence of dysmenorrhea. Disease Prevention and Public Health Journal, 14(2), 76–83. https://doi.org/10.12928/dpphj.v14i2.2480

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2018 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Akupunktur Terapis. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/4235/2021 tentang Standar Profesi Akupunktur Terapis. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Nugroho, T., Prasetyo, B., & Suherni, T. (2020). Tinjauan dismenore dari aspek epidemiologi dan penatalaksanaannya. Jurnal Kesehatan Reproduksi, 11(1), 1–7.

Nurfadilah, A. (2020). Penatalaksanaan nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri dismenore pada remaja putri. Jurnal Kesehatan Reproduksi, 7(3), 112–119.

Ortiz, M. I., Espinoza-Ramírez, A. L., Cariño-Cortés, R., & Moya-Escalera, A. (2022). Impact of primary dysmenorrhea on the academic performance of university students. Enfermería Clínica, 32(2), 81–88. https://doi.org/10.1016/j.enfcli.2021.12.006

Saputra, Y. A., Kurnia, A. D., & Aini, N. (2022). Pengaruh pendidikan kesehatan terhadap upaya remaja untuk menurunkan nyeri saat menstruasi atau dismenore primer. Jurnal Kesehatan Reproduksi, 7(3), 145–152. https://doi.org/10.22146/jkr.55433

Shobeiri, S., Nazari, M., & Nazari, S. (2016). A comparison of the quality of life in women with and without primary dysmenorrhea. Iranian Journal of Obstetrics, Gynecology and Infertility, 19(25), 1–7.

Situmorang, H., Handayani, N., Putri, A. M., & Maharani, D. (2024). Prevalence and risk factors of primary dysmenorrhoea among Indonesian medical students. BMJ Open, 14, e086052. https://doi.org/10.1136/bmjopen-2024-086052

Smith, C. A., Armour, M., Zhu, X., Li, X., Lu, Z. Y., & Song, J. (2016). Acupuncture for dysmenorrhoea. Cochrane Database of Systematic Reviews, 2016(4), CD007854. https://doi.org/10.1002/14651858.CD007854.pub3

Wang, L., Yan, Y., Qiu, H., Xu, D., Zhu, J., Liu, J., & Li, H. (2022). Prevalence and risk factors of primary dysmenorrhea in students: A meta-analysis. Value in Health, 25(10), 1678–1684. https://doi.org/10.1016/j.jval.2022.03.023

Wong, M. F. (2023). Hipnopresus: Kombinasi hipnosis dan akupresur. Jakarta: Penebar Plus.

World Health Organization. (2020). WHO benchmarks for the practice of acupuncture. Geneva: World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/978-92-4-001688-0

Downloads

Published

25-06-2026

How to Cite

EFEKTIVITAS TERAPI AKUPUNKTUR TERHADAP PENURUNAN INTENSITAS NYERI HAID PADA SINDROM STAGNASI QI DAN XUE DI KLINIK BIDAN “S” BANDUNG. (2026). Cakrawala Medika: Journal of Health Sciences, 4(2), 92-101. https://doi.org/10.59981/h7ypfn22

Most read articles by the same author(s)